Wednesday, December 20, 2006

The Five Best Financial Moves for 2007

by Suze Orman

There's no shortage of advice on the hot investments for the coming year during the holiday season. But as far as I'm concerned, the best financial moves you can make -- and need to make ASAP -- aren't about the outlook for corporate earnings growth or capitalizing on geopolitical trends.

Far more important is how good a job you're doing at taking the best care possible of yourself and your family.

Here's my checklist of must-do items for 2007:

1. Lose your balance.

In a few weeks, the credit card bills for the holiday season will start rolling in. For many of you, so will remorse.

I've always considered January to be the most dangerous financial month; it's when so many of us set in motion decisions that can either save us or sink us. The most pivotal decision is what to do about those credit card bills: pay them off completely, or just pay the minimum due and start running a month-to-month balance.

This is your big moment to do what's right, not what's easy: Find a way to pay off the bills completely. It sets you up for a much more prosperous 2007 and beyond.

Not only will you avoid the high interest charges, but you'll have made the most valuable of resolutions: Choosing to be powerful over your money, not vice versa. That sense of accomplishment and control will have an incredible effect throughout your personal and financial life.

Wondering where to come up with the money? Well, if the interest rate on your credit card is higher than what you earn on your savings account, I say tap the savings.

2. Make sure you rate high.

Everyone loves to talk about what's going on in the stock market, but I've yet to hear anyone boast about their great bank savings rate. But not paying attention to what you earn on your savings is a costly mistake.

First, do you even have a separate savings account, or do you just let all your cash sit in your checking account? Most checking accounts that bother to pay any interest on your balance offer a lousy rate -- less than 1 percent on average -- or require you to keep too high a balance to qualify for a decent rate.

Meanwhile, there are plenty of savings accounts -- especially at Internet banks such as EmigrantDirect and HSBC -- where you can earn about 5 percent right now. That's too huge a difference to ignore.

3. Win the match game.

About 20 percent of people eligible for a company match on their 401(k) contributions don't invest enough to qualify for the maximum match. That's equal parts misguided and tragic.

No matter what's going on in your financial life, it makes no sense to turn down this great deal from your boss. Make sure you invest enough in your company plan to snag the maximum company match.

Consider this: If you turn your nose up at the opportunity to get an annual match of just $1,000, over the next 10 years you could be throwing away not just $10,000 of retirement money, but more like $100,000 or so.

How's that? Well, if you manage to earn 8 percent on the company match, and after 10 years just let what has built up continue to grow for another 25 years, that's what the value of the company match could grow to. I'm assuming you and your family can't afford to ignore six-figure payouts.

4. Face your mortality.

What's mortality got to do with prosperity? Everything, if you love your family.

I know this isn't exactly a favorite topic of conversation, but if you have any dependents -- be it young children, a spouse, or older parents -- you want to make sure they're provided for even if you die prematurely.

If you're at a stage in your life where you have yet to build up sizable assets, the simple solution is a term life insurance policy. And I mean it when I say it's simple: Term life is easy to purchase and incredibly inexpensive.

A 40-year-old, non-smoking male in good health can buy $1,000,000 of coverage for just $100 a month or so. There are more details in my earlier column "Insurance: What You Need and What You Don't."

5. Stop kidding around.

This one is for the parents of young children. If you want your kids to grow into happy and responsible adults, you need to take the time to teach them about personal finance. Don't assume they'll just learn as they go, or get instruction in school.

I often hear from young adults who feel let down by their parents on this front; the kids end up running up huge credit card debt in college because they had no clue what was going on, or they panic when they learn Mom and Dad have "paid" for everything by going deeper and deeper into debt themselves. These young adults now face the reality of having to support not just themselves, but also their parents.

The single best gift you can give a child is to teach them the incredible value of living within your means. This doesn't have to be a downer, and you're not being mean. You are, in fact, liberating your kids -- they won't grow up to have a screwed-up approach to money that leaves them deep in debt and deeply depressed.

One of the smartest financial moves you can make is to give them a credit card education. If you have a solid FICO credit score -- above 720 or so -- then I recommend adding your teenager to the account as an authorized user. It's their training wheels in the world of finance.

Let them use the card, and involve them in the bill paying; literally have them sit down with you when it's time to send in the payment. Explain the dangers of falling into the minimum payment trap, and the cost of paying high interest on an unpaid balance. They may not thank you in 2007, but in years to come I guarantee they'll thank you for giving them the tools to be financially smart and secure adults.

Think steps ahead

A: Kalo telinga bapak dipotong, gimana?
B: Saya jadi gak bisa baca
A: Aneh, kok bisa jadi begitu?
B: Karena saya jadi gak bisa pakai kacamata

Kadang kali atau sering kali, orang-orang yang mampu berpikir beberapa langkah ke depan (walau hanya 1 langkah) akan dianggap aneh. Kemampuan yang dimiliki oleh orang-orang spesial tersebut sulit diterima oleh logika kebanyakan, kadang mereka dianggap GILA.

Saya ingin sekali punya kemampuan tersebut. Beberapa tahun terakhir saya mempelajari bagaimana cara membuat ramalan, tapi bukan ramalan ala paranormal dengan bantuan jin. Ramalan ini murni dengan melihat situasi sekarang, belajar dari sejarah, dan membuka mata lebar-lebar akan perubahan. Mungkin seperti ilmu futurologi juga.

Di satu tulisan saya yang lalu menuliskan harga emas 24 karat yang kemungkinan akan naik hingga 300 ribu rupiah per gram. Alasannya adalah kemungkinan resesi di masa depan.

Beberapa hari yang lalu saya perhatikan tingkat suku bunga deposito mulai menunjukkan gejala aneh, gejala yang biasa terjadi kalau investor institusi mencium kemungkinan adanya masalah finansial di depan. Suku bunga deposito 12 bulan dipatok lebih rendah daripada bunga deposito dengan periode lebih singkat, 6 bulan. Saya artikan bahwa bank mulai tidak mau lama-lama memegang uang rupiah kita. Karena kita kan menitipkan uang rupiah kita dalam bentuk deposito dan nanti bank akan kena beban untuk membayar ke kita sejumlah uang (bunga). Mungkinkah keperkasaan rupiah akan segera berakhir?

Ingat krisis tahun 1997. Tahun depan adalah tahun 2007, sudah 10 tahun. Banyak pihak percaya bahwa krisis biasa datang 5 tahun sekali dan seringkali terjadi pada tahun ke-2 atau ke-3 masa kepemimpinan presiden US. Tahun 1992 krisis datang setelah perang teluk 1991, harga minyak naik, harga emas membumbung. Tahun 1997 krisis moneter datang, rupiah terjungkal, dollar naik, harga emas membumbung lagi. Tahun 2002 isu terorisme menghantam dunia, krisis datang lagi tetapi waktu itu amerika langsung menggelar perang kemana-mana. Sepertinya presiden US percaya bahwa perang adalah cara paling cepat menangkal krisis, karena perang adalah proses penghacuran dan pembangunan kembali yang pada akhirnya membuat roda bisnis bergerak, perusahaan dapat pekerjaan, dan masalah ketenagakerjaan berkurang. Tahun 2007?

Krisis juga kadang ditandai dengan selesainya proyek mercu suar. Krisis moneter tahun 1997 ditandai dengan selesainya menara Petronas, dan tahun kemarin saya dengar bahwa menara Al-Burj di saudi sudah selesai juga. Nah looo...

Pertanyaan: Kalo kita dikasih balik lagi ke tahun 1996, apa waktu itu kita mau pegang rupiah?

Bunga deposito rupiah memang naik sampai 30-60% setahun, tapi kalo kita pegang dollar US, maka kenaikannya bisa sampai 500% atau 5 kali lipat, dahsyat booo...

Tapi sebetulnya rupiah dan dollar itu sama aja, sama-sama uang cetakan politikus, keduanya bisa bergerak saling bertolak belakang atau sama-sama naik atau sama-sama turun. Yang pasti nih, emas akan selalu sama nilainya. Punya rupiah lebih dan bingung mau disimpan ke mana? Coba tukarkan ke emas. Bisa dalam bentuk batangan atau sertifikat, lalu simpan di safe deposit box kalo mau lebih aman. Saya sudah melakukannya.

Mungkin ada yang berpikir, apa-apaan sih ini atau ah pemerintah pasti bisa bertahan. Saya sih lebih percaya dengan apa yang saya rasakan. Eh iya, harga beras sudah mulai naik ya... sudah bisa dipastikan angka inflasi naik dong, itu juga kalo BPS ngitungnya bener...

Terakhir yang mungkin bisa jadi pertimbangan adalah "Nabi Nuh tidak mulai membuat perahu saat hujan mulai turun rintik-rintik, tapi saat sebelum hujan."

Live long and prosper

Tuesday, December 19, 2006

How to Escape from a Terrible Boss

by Barry Lenson

I've had some horrible bosses over the years. I bet have you have had some too. My personal life list includes a control freak, a classic bully and a "Jekyll and Hyde" lady who was my best friend one day and a screaming monster the next.

Why did I put up with these people? Because I needed a paycheck and I couldn't just walk out the door. But I finally did escape. If I did it, you can too.

Here are some strategies that can help you keep moving toward your own goals, even if your boss is a psychopath, a tyrant, or worse.

Step One: Stick to the Higher Ground

No matter how hard your boss tries to derail you, maintain an excellent attitude and a strong professional image. Never let the quality of your work slip. Other people in your organization will notice your professionalism - in fact, they will notice it even more because you have an awful boss. Just be sure to take Step Two too . . .

Step Two: Be Patient

Your boss isn't only making life miserable for you. The bad stuff he or she is throwing around is also angering company leaders, colleagues, clients, suppliers and lots of other people. If you are patient, your boss will probably get the boot a lot faster than you realize. (Unless he is the brother of the CEO, in which case you should move immediately to Step Four.) And then you will be well positioned to move up, provided that you make sure to follow Step Three . . .

Step Three: Increase Your Exposure

Don't let your boss hide your excellence. Find ways to work with people from other departments. Volunteer for interdepartmental projects and task forces. If opportunities like that are scarce in your company, start a community outreach program, a charity drive or another initiative that gets you working next to people from other divisions. When they notice how good you are, they will come looking for you when an opportunity arises in their sectors. But the most important thing to do is follow Step Four . . .

Step Four: Plan Your Escape!

Don't just fantasize about giving your boss notice and walking out the door. Even if you need that paycheck now, start making plans to chart your own life by starting a company, buying one, entering into a high-tech partnership - whatever your dream may be.

Planning your future today, aggressively, can help you keep your head on straight, even if you are laboring under a terrible boss.

What You Don't Know about Refinancing Can Hurt You

Trump University President Michael Sexton interviews EJ Ridings, President of Trump Mortgage

Most people refinance their homes when they need a large sum of money to install a new kitchen or pay college costs. But there are right and wrong ways to refinance, as we'll learn in the following conversation between Trump University President Michael Sexton and EJ Ridings, President of Trump Mortgage, one of the fastest-growing lending institutions today.

Michael Sexton: I just read an article that described homeowners who use their homes like "cash registers" by refinancing repeatedly until all the equity is gone. That is obviously bad. But please help our readers put things in context. What are valid reasons for refinancing?

EJ Ridings: In general, there are three reasons to refinance your mortgage. First, to lower your monthly payments. Second, to get your mortgage paid off faster. And third, to take cash out of your property.

But your "cash register" point is well taken. Refinancing is never a decision to be taken lightly. The term of your mortgage, prevailing interest rates, and a number of other factors need to be taken into account. I would encourage anyone who is thinking about refinancing to visit Trump Mortgage's website, [], to use our array of refinance analysis tool to weigh those factors.

MS: What are typical closing costs and expenses? And how can you get an accurate picture of them before you go into your closing?

EJR: Costs and fees fall into three categories:

  • Lender fees may include origination, application fees, points, appraisal, and credit report.
  • Third-party fees vary according to state and the company you choose to close your loan. They may include fees for closing, title insurance, title exam and recording.
  • Pre-paid items are due at the time of closing, but are sometimes not considered closing costs per se. They may include taxes, interest, hazard insurance and other items you might have to pay for, whether you are refinancing or not.

Altogether, closing costs usually range from 2 percent to 3 percent of your loan amount. You will be given an estimate of your closing costs shortly after your mortgage application has been received. However, the actual fees and figures you see on that statement can change by the time you get to your closing. Any prepayment penalty on a loan being refinanced, for example, will raise the amount needed to close. If you change the product type or loan amount, the closing costs will obviously change too. So before you arrive at the closing, be sure to ask your attorney or closing company how such changes will affect your closing costs. There may be ways to keep them under control. If there is enough equity in your home, for example, your closing costs may be rolled into your new loan amount to keep your out-of-pocket costs as low as possible.

MS: Typically, how much equity do you need to have in your home in order to refinance?

EJR: Most refinance loan programs require at least 10 percent.

MS: On our Trump University blog and Discussion Boards, people sometimes ask whether they can refinance while their homes are for sale. Perhaps they need that money to make a down payment on another property. Is that possible?

EJR: You cannot refinance while your home is for sale. But as long as your home has not been for sale within the last six months, you can refinance.

MS: How does a refinancing closing differ from a closing for a first-time mortgage?

EJR: The refinance closing is handled the same way your loan was closed when you originally purchased your property. At closing, after your loan is approved, you'll be getting copies of documents you'll need to sign. The closing takes place at the office of a closing agent or it may involve a meeting where all related parties are present.

Wednesday, December 13, 2006

Tips Menghindari SPAM & Melacak Website Dodol Penjual Alamat Email

Dari milis TDA.

Rekan TDA,
Baru baca - baca PCMild, ada trik menarik untuk utak-atik account gmail kita.
Salah satunya mengenai "Filter & Plus Addressing", maksudnya kitakan sering mendapatkan email berisi SPAM padahal kita sudah menjaga hati-hati email tersebut supaya tidak digunakan para spamer.
Biasanya para spamer itu mendapatkan email kita, ketika kita mendaftar pada suatu situs, apakah menjadi anggota atau untuk mendapatkan sesuatu yang gratis dari si pemilik situs. Kan bisa saja email-email yang sudah terkumpul dijual pada pihak lain oleh si pemilik situs tersebut.
Nah, gmail punya fitur yang bisa melacak situs mana yang telah menjual email kita tersebut. Caranya:
Ketika kita mengisi form pada sebuah situs, maka isi alamat email kita di gmail ditambahkan tanda "+". Misalkan email: parvidia@gmail. com, dan mau mendaftar di www.bravenet. com maka kita isi form isian email sbb: parvidia+bravenet@ Dengan mengisi seperti ini, kita tetap menerima email tersebut di Inbox kita, karena gmail akan menghiraukan segala karakter setelah tanda plus ini. Jadi alamat email parvidia+bravenet@ tetap diperlakukan sama dengan parvidia@gmail. com oleh gmail.
Dengan begitu kita bisa melacak jika email kita di jual pada pihak ketiga oleh bravenet, dengan melihat ke bagian "to". Maksudnya gini, apabila kita dapat email, dimana pada bagian to tertulis parvidia+bravenet@ tapi dibagian form bukan dari bravenet maka jelas bravenet telah membrikan email kita pada pihak ketiga tanpa seijin dari pemiliknya. Kan kita cuma ngasih ke bravenet alamat email sperti ini. ya kan!!!
Dari sini, kita bisa melakukan filtering untuk memblokir setaip email yang ditujukan ke parvidia+bravenet@ Untuk melakukan filter tentu sudah bisa dong.

Sepuluh Kesalahan Manager dan Bagaimana Menghindarinya

Wolf J. Rinke, PhD, CSP

Ketimbang bertele-tele, kita langsung ke pokok persoalannya saja. Berikut
ini adalah 10 kesalahan yang paling banyak dilakukan oleh manajer, serta
bagaimana kita bisa menghindarinya.

10--Tidak mempercayai karyawan.

Jika anda terus-menerus tidak mempercayai karyawan, anda hanya benar
sebanyak 3% saja. Namun jika anda selalu mempercayai karyawan anda, sampai
terbukti bahwa anda keliru, maka anda menghabiskan waktu anda sebanyak 97%
untuk melakukan hal yang benar. Maka mengapa kita tidak melakukan hal yang
benar saja? Mempercayai karyawan akan memberikan hasil yang luar biasa
positif bagi organisasi anda.

9--Menghabiskan terlalu banyak waktu di kantor.

Dalam sebuah seminar, saya bertanya pada para manager: berapa di antara anda
yang tak mempunyai masalah? Tentu saja, tak ada yang mengangkat tangan.
Kemudian saya bertanya lagi: kepada siapa anda mencari jawaban? Jika anda
menjawab: kepada customer dan karyawan, anda benar. Maka, mengapa anda lebih
banyak menghabiskan waktu di kantor anda sendiri? Anda takkan mendapatkan
jawaban apa-apa jika anda berdiam di kantor anda. Untuk mendapatkan jawaban
atas persoalan, anda harus menghabiskan waktu setidaknya 66% untuk
mempraktekkan management by walking around.

8--Memuaskan customer.

Jika anda berusaha memuaskan customer, anda akan segera terlempar dari
bisnis anda. Mengapa? Karena hanya dengan melampaui harapan customerlah,
customer akan mengingat anda dan perusahaan. Jika tidak, mereka akan
melupakan anda dan tidak akan mempertimbangkan anda lagi. Mereka akan
memilih produsen lain untuk memenuhi kebutuhan mereka.

7--Mencari-cari kesalahan karyawan.

Mungkin anda akan protes, bukankah ini adalah tugas manager? Memang benar,
tapi jika anda berasal dari generasi tua manajemen, dan jika anda ingin
merusak efektivitas anda sendiri. Alasannya: anda sebagai manajer semestinya
tahu bahwa harapan-harapan anda baru akan tercapai dalam jangka waktu
panjang. Jika anda ingin menyuntikkan energi tinggi dalam organisasi,
semestinya anda memusatkan energi anda untuk memergoki karyawan melakukan
hal yang benar. Maka, anda melakukan manajemen dengan penghargaan, bukan
dengan perkecualian.

6--Menghabiskan banyak waktu dengan si biang kerok.

Coba perhatikan agenda anda selama beberapa hari ini. Jika anda menghabiskan
waktu dengan si biang kerok perusahaan lebih dari 5% waktu anda, maka anda
menyia-nyiakan waktu anda sana. Anda mendapatkan apa yang anda perhatikan.
Jika anda hanya memperhatikan si biang kerok, anda akan mendapatkan biang
kerok. Jika anda menghendaki kinerja perusahaan yang tinggi dan positif,
anda harus menghabiskan sebagian besar waktu anda dengan orang-orang yang
mampu mewujudkan hal tersebut.

5--Tidak banyak melakukan pelatihan dan pengembangan SDM.

Riset mengatakan bahwa perusahaan yang berkinerja tinggi justru
mengalokasikan investasi mereka sebanyak3,5-5% untuk pengembangan sumber
daya manusianya, melalui pendidikan dan pelatihan. Sebenarnya tidak ada hal
yang ajaib dalam hal ini. Jika anda ingin perusahaan anda berjalan lebih
baik, anda harus memiliki karyawan yang lebih baik pula.

4--Menumpuk-numpuk kekuasaan.

Jika anda ingin meningkatkan kekuasaan anda, anda justru harus menguasai
seni membagi-bagikannya. Jika anda tidak berkenan membagikan kekuasaan, anda
tidak memberi kesempatan orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Artikel di
Wall Street Journal tahun 1997, menunjukkan bahwa 30% karyawan merasa bahwa
minat mereka diabaikan oleh manajer yang berkuasa mengambil keputusan yang
mempengaruhi mereka. Angka ini melonjak dibanding tahun 1996, sebesar 25%.
Ingat-ingatlah selalu untuk menekan pengambilan keputusan hingga ke level
yang paling bawah.


Kebanyakan manajer menyukai downsizing, alias penciutan organisasi. Mengapa,
karena tampaknya inilah cara paling cepat untuk menaikkan laba perusahaan.
Dengan demikian, manajer akan mendapatkan bonus lebih bsar. Aha! Melakukan
penciutan untuk mendapatkan bonus? Riset menunjukkan bahwa dalam jangka
panjang, perusahaan yang melakukan downsizing justru lebih tidak profitable.
Study selama tujuh tahun yang dilakukan oleh Universitas Colorado
membuktikan bahwa perusahaan yang melakukan downsizing bisa melipatgandakan
pendapatan selama 3 tahun. Tetapi, perusahaan sejenis yang tidak melakukan
downsizing justru meng-empat lipat gandakan pendapatan mereka dalam periode
yang sama. Intinya: perusahaan anda meraih competitive advantage melalui
orang, bukan dengan mengusir mereka dari organisasi.

2--Membuat kerja tampak berat.

Apakah anda suka bersenang-senang? Tentu saja! Jadi, mengapa banyak manajer
yang menjadikan pekerjaan sedemikian berat dan menyakitkan untuk dikerjakan.
Lihat saja survey yang mengatakan bahwa 25% karyawan Amerika Serikat
membenci pekerjaan mereka, 56% dengan terpaksa menerima pekerjaan mereka,
dan hanya 19% yang mencintainya. Anda akan mencapai kinerja yang luar biasa
melalui orang-orang yang biasa saja hanya dengan menjadikan pekerjaan tampak

1--Memberi reward yang sama kepada setiap orang.

Kebodohan nomer satu yang dilakukan manajer adalah memberikan reward yang
sama kepada setiap orang. Hal ini melanggar prinsip terutama dari manajemen:
reward harus sesuai dengan kinerja. Jika anda melakukan prinsip ini, anda
punya peluang untuk membentuk perusahaan sebagaimana yang anda inginkan.
Maka, lihat lagi bagaimana rewarding system anda, lalu pastikan bahwa
anggota team yang paling positif, energetik dan berkinerja tinggilah yang
mendapatkan reward dan penghargaan yang paling baik dan paling tulus,
dibanding sang biang kerok perusahaan anda.

Itulah 10 kesalahan dan kebodohan yang harus anda hindari jika anda ingin
membangun organisasi yang lebih produktif dan positif.

(Disadur dari: Wolf J. Rinke, PhD, CSP, Top 10 Stupidest Mistakes Managers
Make and How to Avoid Them)

Friday, December 08, 2006

Make It Happen in Your Life

by Donald J. Trump

"You cannot teach a man anything; You can only help him find it within himself." - Galileo

In a recent issue of Business Week magazine, I was voted, by their readers, as "the world's most competitive businessperson" and voted by the staff and writers of Business Week as one of the top 10 most competitive businesspeople on the planet. To me, that is a great honor. It also underscores why I emphasize taking the initiative in order to "make it happen in your life."

I am a competitive person and to me that's a good thing, because it's the opposite of being complacent. I've talked before how complacency can keep you in a comfort zone, which isn't always the best place to be. I also compete with myself, which is the ultimate form of competition. Trying to best yourself can make your aspirations even more significant.

For example, I have achieved great success as a developer. I'm the biggest developer in New York. Who do I compete with in that case? The answer is pretty simple: myself. I've mentioned the importance of self-motivation before, and that's one reason why. It's also a great way to challenge yourself and to keep your momentum where it should be-moving forward. I'm always looking for ways to do things better, no matter how much success I may have encountered.

Some people say that's a good way to never find satisfaction. Well, I don't believe in being self-satisfied, or for very long anyway. There's no reason we can't toot our own horns once in awhile, but hey, we all know that the world is moving forward quickly and keeping up with it is important. I like being on the cutting edge of progress. I don't like being someone who sits back and watches it go by.

Unless you plan to spend your time in a café, sipping cappuccino and watching life go by, I'd advise you to take some steps towards making what you want to happen in your life actually happen. The fact that you are reading this now gives me an indication that you're not a café type, but a person who is serious about success and achievement.

There is an old riddle that brings this to light: Five frogs are sitting on a log. Four decide to jump off. How many are left? Answer: Five. Why? Because there's a difference between deciding and doing. Think about that one for awhile and see if it pertains to you. Let's hope it doesn't, but if it does, there's still time to get going and start making things happen in your life.

The first step will be to find out what you love doing. As you know, I'm a firm believer that passion is absolutely necessary in order to achieve comprehensive success. I say 'comprehensive' success because in order to be truly successful, it's important that you feel fulfilled by what you are doing. Otherwise, what's the point? Empty success is success without passion. It's like going to school and tuning in just enough to pass so you can get out and do what you really want to be doing, or having a job that makes you watch the second hand ticking on the clock.

As Galileo said, a teacher's job is to help you find it within yourself to do what it is you should do. Then again, maybe you already know. We've all heard stories of how people bucked the system and defied their teachers and families, and became huge successes. They were persistent and steadfast, but above all they had tremendous passion for what they were doing. That made them indomitable. Michelangelo's family was dead set against him becoming an artist. He became one anyway, against great odds. Einstein wasn't a great student, but he had an amazing mind and he exceeded all expectations.

Either way, the point is to find out what you love and then take the steps to make it happen for you. Learn to compete with yourself and see how much you can accomplish. It's a great feeling to know you have the ability to make things happen in your life. In short, don't watch life from the sidelines. Get out there and go for it!

Donald J. Trump is Chairman of Trump University. He shares more of his advice for achieving ultimate success in the new book, Trump 101.

7 Killer Headline Starters (Flyers/Adds)

7 Killer Headline Starters

By Brad J Sugars

Here are 7 ways to write better headlines. Try writing one of each for your business. Choose the best and use it for your next ad.

7 Reasons…
7 Reasons to make George’s your exclusive widget supplier…
7 Reasons why George’s Widgets is Brisbane’s Number 1…

Here’s why…

Here’s why George’s is giving YOU a free box of widgets…
Here’s why 3 Widget shops have gone broke since the opening of George’s…

Here’s how…
Here’s how George’s make the world’s toughest widgets…
Here’s how to buy the best widgets in the world for ½ price…


Announcing… a new way to buy widgets…
Announcing… the grand opening of the world’s largest widget shop…

Don’t …

George’s make the world’s toughest widgets…
Here’s how to buy the best widgets in the world for ½ price…


WANTED… 34 people who want a box of widgets for wholesale price…
WANTED… handymen who need a better widget supplier…


Advice for those looking for widgets…

The One Minute Manager-Teguran Satu Menit

Lagi butuh 'how to' yang satu ini nih, sekalian saya share ke teman-teman.

The One Minute Manager
Kenneth Blanchard Ph.D. & Spencer Johnson M.D.

Ada satu hal menarik dari The One Minute Manager, yang mungkin tampak
berlawanan. Meski motto utama Manajer Satu Menit adalah memergoki karyawan
melakukan sesuatu dengan benar, namun itu bukan berarti mengabaikan
kesalahan. Justru ketika Manajer satu menit mendapati karyawannya melakukan
suatu kesalahan, tidak segan-segan ia memberikan teguran. Teguran itu
diberikan tanpa terkecuali. Dan inilah rahasia ketiga dari Manajer Satu
Menit: Teguran Satu Menit. Teguran tetap diberikan meski hal-hal lain
berjalan dengan baik.

Mengapa teguran? Ketika karyawan telah tahu apa sasaran dan bagaimana
mencapainya, maka melakukan kesalahan merupakan suatu hal yang harus
dicermati. Manajer satu menit akan segera mempelajari fakta kesalahan
tersebut, kemudian menegaskan dan menunjukkan kekecewaannya. Melalui teguran
ini, manajer satu menit seolah mengatakan bahwa sebenarnya kesalahan itu
tidak mungkin dilakuan oleh seorang karyawan yang kompeten. Ia memberikan
respek pada kemampuan karyawan, karenanya kesalahan dianggap sebagai
penyia-nyiaan dari kompetensi itu. Ia mengharap agar karyawan tidak
melakukan kesalahan yang sama.

Bagaimana Manajer satu menit melakukan teguran dengan baik? Pertama, perlu
dipahami bahwa anda tidak bisa menegur karyawan yang melakukan kesalahan
jika anda tidak bersedia memberi tahu kepada karyawan bagaimana cara mereka
melakukan sesuatu. Dan itu harus anda katakan dengan tegas. Jika anda telah
menunjukkan kepada karyawan sasaran dan bagaimana mencapainya, maka ketika
terjadi kesalahan, anda berwenang untuk memberikan teguran.

Kedua, ketika terjadi kesalahan anda harus memberikan teguran dengan segera.
Ini adalah kunci utama dari teguran satu menit. Dengan demikian, teguran
dapat berlaku sebagai umpan balik bagi pendisiplinan. Kebanyakan manajer
memendam teguran sehingga menumpuk-numpuk perasaan negatif dalam diri
mereka. Pada waktunya mereka akan meledakkan kemarahan dan mengatakan pada
karyawan bahwa mereka melakukan kesalahan sekian lama. Ini tentu tidak adil.
Semestinya teguran diberikan sesuai dengan relevansi perilaku yang ingin

Ketiga, isi teguran haruslah spesifik pada apa yang ingin ditegur. Dan,
keempat, jangan sekali-kali menyerang secara pribadi. Dengan tidak mengusik
harga diri, maka karyawan tidak perlu lagi mencari-cari dalih untuk
mengobati perasaan harga diri yang terluka. Sekali lagi, teguran haruslah
bersifat umpan balik atas perilaku bukan perasaan sebagai manusia. Tujuan
terutama dari teguran satu menit adalah MENYINGKIRKAN PERILAKU YANG KELIRU
DAN MENJAGA PRIBADI KARYAWAN. Dengan kata lain, perilaku yang salah, namun
pribadi mereka tetap utuh. Itu berarti, bahwa manajer satu menit menegur
dahulu, kemudian memberikan "pujian" atau dukungan atas pribadi mereka.
Manajer satu menit bersikap keras terlebih dahulu, baru kemudian

Karena yang dipersalahkan adalah perilaku dan ditunjukkan secara spesifik,
maka tidak perlu ada tindakan mencari-cari kesalahan. Di lain pihak, bagi
karyawan tidak perlu mencari-cari pembelaan diri. Oleh karena itu teguran
dapat bersifat jujur dan tulus. Ini adalah kunci kelima. Teguran harus
dilanjutkan dengan kepedulian anda akan kesejahteraan pribadi karyawan.
Manajer satu menit tidak segan untuk memberikan sentuhan untuk menegaskan
bahwa mereka benar-benar tulus akan teguran itu, dan tidak ada prasangka
terpendam kecuali keinginan untuk meraih sesuatu yang lebih baik.

Terakhir, bila teguran telah diberikan, maka harus disadari bahwa teguran
itu telah selesai. Manajer satu menit tidak memperpanjang teguran-teguran.
Teguran hanya pantas diberikan tidak lebih dari 30 detik. Setelah itu mereka
tidak akan mengungkit-ungkitnya.

Secara ringkas, teguran satu menit berjalan dengan baik jika anda melakukan
hal ini:

1--Mengatakan sebelumnya kepada karyawan bahwa anda akan memberi tahu apa
dan bagaimana karyawan melakukan sesuatu.

2--Menegur dengan segera.

3--Mengatakan perihal yang salah secara spesifik.

4--Menyatakan bagaimana perasaan anda mengenai apa yang mereka lakukan
dengan salah secara tegas.

5--Berhenti beberapa detik untuk memberi kesempatan bagi karyawan meresapi
perasaan anda.

6--Berjabatan tangan atau menyentuh mereka secara tulus, menunjukkan bahwa
anda tetap berada di pihak mereka.

7--Mengingatkan betapa anda menghargai karyawan anda.

8--Menegaskan bahwa dalam pandangan anda, karyawan anda adalah baik, namun
tidak demikian dengan pekerjaan mereka dalam situasi ini.

9--Menyadari bahwa ketika teguran itu selesai, itu benar-benar selesai.

Thursday, December 07, 2006

Business is

Great statement from Brad Sugars about what the business is.

From now on, I always consider the statemen in every decission and action I made.

I planned having only 1 year in every businesses I have then I'll hire someone smarter than me to be a president of each of my businesses.

Go for another business then.

Picture taken from my mentor, mr Iim and have seen before from my another mentor mr Roni.

Wednesday, December 06, 2006

Bayar Pajak Mobil

Tadi pagi saya sempatkan ke Samsat Jakut-Jaktim di daerah Kebon Nanas Jakarta Timur untuk membayar pajak mobil.

Berkas yang harus dibawa:
1. BPKB asli dan fotokopi 1
2. STNK asli dan fotokopi 1
3. Lembar Pajak Kendaraan asli dan fotokopi 1
4. KTP asli dan fotokopi 1

Kalo yang BPKB-nya disimpan pihak Leasing harus minta surat keterangan dan fotokopi BPKB yang dilegalisir oleh pihak Leasing.

Sampai di Samsat, datangi bagian informasi untuk minta formulir (gratis), kadang ada tambahan biaya sumbangan PMI atau dll tapi paling cuma seribu. Kalo lupa fotokopi bisa ke bagian belakang ruangan, ada yang buka fotokopi di sana, tapi lebih mahal, sekitar 200 per-fotokopi-an.

Isi formulir lalu bawa formulir dan semua berkas ke loket pendaftaran. Loket pendaftaran dipisah antara kendaraan roda 2 dan roda 4 (roda 3 ikut ke roda 4). Nanti dipanggil di loket notifikasi untuk menerima blanko pembayaran pajak dan ktp asli. Langsung bayar di loket pembayaran (dipisah juga antara motor & mobil), nanti dikembalikan blanko pembayaran pajaknya yang sudah di stempel. Blanko pembayaran dikasih 2, putih dan biru. Putih untuk kita, biru untuk mengambil STNK. Lalu tunggu sampai dipanggil lagi di loket Penerimaan STNK (di sini nunggunya agak lebih lama). Kalau dipanggil, kasih blanko warna biru untuk ditukar dengan STNK & Bukti Pajak Kendaraannya. Selesai. Kalo mau boleh pulang :)

Waktu yang dibutuhkan kira-kira 40 menit. Sepertinya hari Senin lebih ramai dibanding hari lain. Gampang kok, semua tempat ada petunjuknya, informasi dimana-mana dan banyak petugas yang bisa ditanya. Gak perlu pake calo, rugi!

Semoga bermanfaat

Google Analytics - Web visitors tracker

One of google valuable service. Track the visitors of your business.

Google wants you to attract more of the traffic you are looking for, and help you turn more visitors into customers.

Use Google Analytics to learn which online marketing initiatives are cost effective and see how visitors actually interact with your site. Make informed site design improvements, drive targeted traffic, and increase your conversions and profits.


After you sign in and register your website to google analytics, then you'll get code to let google analytics grab your visitors data.

This is from my account: (I write it down here as my archive)

I just copy the following code block into every webpage I want to track.

<script src="" type="text/javascript">
<script type="text/javascript">
_uacct = "UA-1030791-1";

Copy and paste the code segment into the bottom of your content, immediately before the tag </body> of each page I am planning to track. If I use a common include or template, I can enter it there.

Tuesday, December 05, 2006

Work for what you can learn, not for what you can earn

Di buku Kiyosaki's Cashflow Quadrant saya tidak mendapat kesan ada penilaian bagus buruk dari tiap kuadran.Semua kuadran bisa mendapatkan kebebasan finansial, hanya beda di peluang, berapa besar, dan berapa cepat kebebasan finansial bisa diraih.

"Work for what you can learn, not for what you can earn", kata Kiyosaki.

Jadi sah-sah aja kerja jadi pegawai, tapi lihat untuk apa kerja jadi pegawai. Kiyosaki memang pernah beroperasi di kuadran E, waktu bekerja sebagai sales di perusahaan xerox sepulang dari tugas pilot di perang vietnam. Kalo dilihat lebih jauh, kiyosaki bisa memilih pekerjaan lain yang gajinya lebih banyak karena keterampilan pilotnya di perusahaan airline dibanding jadi sales mesin fotocopy, tapi impiannya menjadi entrepreneur membuatnya menjalankan ide "Work for what you can learn, not for what you can earn".

Richdad juga menyuruh kiyosaki cari kerja waktu pulang dari vietnam, padahal saat itu kiyosaki sedang pengen-pengennya memulai karir jadi entrepreneur, tapi saat kiyosaki mengatakan ingin bergabung dengan bisnis Richdad dan Richdad bilang "Ok, kalo gitu kamu perlu investasi sekian ribu dolar untuk mulai", kiyosaki gak punya uang sebanyak itu, ada juga disimpan di reksadana tapi kecil. Ketika Kiyosaki bertanya "Bagaimana saya bisa dapat uang sejumlah itu agar bisa berbisnis dengan Bapak?", maka jawab Richdad adalah "Carilah kerja". Richdad katakan bahwa skill nomor 1 dari seorang entrepreneur sukses adalah menjual, jadi Kiyosaki cari kerja untuk belajar bagaimana caranya menjual.

Saya menangkap pelajaran bahwa untuk pebisnis pemula yang kekurangan modal, maka modal lebih aman dicari lewat bekerja, karena kurangnya skill berbisnis dapat mengakibatkan resiko modal berkurang atau hilang yang jika modal tersebut hasil pinjaman maka hasilnya akan mengakibatkan punya hutang dan efek psikologisnya bisa menghilangkan motivasi menjadi entrepreneur. Cari kerjanya seorang calon entrepreneur harus beda, dengan menjalankan ide "Work for what you can learn, not for what you can earn", bekerja untuk apa yang bisa kita pelajari bukan untuk gaji. Bekerja sebagai karyawan sambil memulai usaha bisa dianggap sebagai asuransi jika usahanya gagal.

Memang meminjam modal dari orang lain adalah juga suatu bentuk dari leverage, tapi khusus untuk pebisnis pemula, resikonya terlalu besar. 3 hal penting dalam kebebasan finansial adalah cashflow, control, dan leverage. Artinya jika kita sudah mantap berbisnis, sudah menghasilkan cashflow positif dan masa depan bisnis dalam control, maka pinjam uang untuk menambah kapasitas usaha adalah suatu leverage. Leverage (daya ungkit) berarti menghasilkan lebih banyak dengan usaha sama atau lebih sedikit.

Tidak penting di kuadran mana kita sedang berada, yang terpenting di kuadran mana tujuan akhir kita nanti, dan itu membutuhkan rencana. Karyawan yang sukses semestinya bisa menjadi investor yang sukses. Self employee yang sukses seharusnya bisa menjadi Investor yang sukses dan seharusnya bisa membuat sistem sehingga bisa berubah menjadi Business owner. Kita bisa menjadi kaya di kuadran manapun, tapi peluangnya lebih besar di kuadran kanan, sebagai pemilik bisnis atau investor. Alasannya karena di kuadran kanan peluang lebih besar untuk memiliki 3 hal penting dalam kebebasan finansial di atas. Di kuadran kiri, hal yang pasti didapat adalah cashflow dalam bentuk gaji, tetapi sedikit kemungkinan mendapatkan control, apalagi leverage.

Ada dua macam karyawan yang sukses, yaitu karyawan sukses yang kaya dan karyawan sukses yang miskin. Tapi hanya satu macam pengusaha sukses, yaitu pengusaha sukses yang kaya.

Meminjam definisi kata "kaya" dari Dr. Buckminster Fuller, bahwa kekayaan diukur dari waktu bukan dari uang, jadi maksudnya sekaya apa itu diukur dari kalau kita berhenti beraktivitas mencari uang sekarang maka dalam berapa lama kita bisa hidup dengan gaya hidup yang sama dari aset-aset yang sudah ada.

Mudah-mudahan berkenan.

Salam Fuuntastic!


Ferdi RN
Tulisan lain bisa dilihat di

"Ada dua macam karyawan yang sukses, yaitu karyawan sukses yang kaya dan karyawan sukses yang miskin. Tapi hanya satu macam pengusaha sukses, yaitu pengusaha sukses yang kaya."

My business trouble: Different of Speed

Trouble happen. But it is not failures or loses trouble us, such of success trouble us. System I implemented, has not clearly understood by my partner, we thought we talked same topics, we made plan, but our speed in action is different, it's slow down the business. I have to be in the business again, sigh...

Buat yang suka ngoprek komputer pasti paham, kalo pake 2 keping memori yang kecepatannya (frekuensi) berbeda, maka kecepatan yang paling rendah yang akan dipakai sebagai kecepatan efektif saat bekerja. Begitu pula dalam bisnis!

Tindaklanjutnya ada 2: membiarkan (membiarkan bisnis berjalan dengan kecepatan di bawah kecepatan yang diinginkan) dan mempercepat (latih orang, permak sistem, mikir keras lagi, dan kerja keras).

Saya pilih mempercepat bisnis mencapai kecepatan yang saya inginkan. Besok tim saya akan dipecah menjadi 3:
- Tim 1 menjalankan operasional seperti biasa
- Tim 2 membantu partner saya menyelesaikan tugas2nya, saya bantu mempercepat sistemnya
- Tim 3 dan saya mengerjakan pekerjaan administrasi rutin yang ditinggalkan oleh tim 2.

- Tim 1 : operasional lancar dan tambah lancar
- Tim 2 : pekerjaan selesai dan upgrade sistem
- Tim 3 : pekerjaan administrasi rutin dapat diatasi

Waktu maksimal 1 minggu.

Target minggu depan tanggal 12 Desember 2006:
- Aktivitas tim sudah berjalan normal kembali sesuai posisi
- Kecepatan bisnis sesuai dengan yang diharapkan

Dari tadi ngomongin kecepatan bisnis melulu ya, tapi seberapa cepatnya nggak dikasih tau... hehehe... sabar dong... iya deh, ini bocorannya... salah satu kecepatan bisnis yang kami inginkan adalah keuntungan bisnis 10 juta kotor per hari.

Yup, salah satu unsur yang menentukan kecepatan efektif bisnis saya adalah kecepatan uang bisnis itu sendiri.

So, how speed is your money do you want?

Monday, December 04, 2006

Are you Entrepreneur or Technician running business?

From book E-Myth by Michael E Gerber, there is 3 types of personality who running business. They are called Technician, Manager, and Entrepreneur.

Technicians jobs related to direct and hand-on job, tactical job.
Manager jobs related to getting result through others, enhance system, tactical and strategic job.
Entrepreneur jobs related to shape the business, visionary, strategic job.

Success entrepreneur working on business not in business. Entrepreneur is master of time management and job delegation.

Some business built not by entrepreneur (pesonality), but by technician who suffering from past company, willing to be own boss, believe that he/she can do thing better. The businsess may be run, but the owner's technician personality will make the business keep small and full of struggle.

Entrepreneurs have business.
Technicians have busyness.

Friday, December 01, 2006

TV vs Real World

Pelarangan tayangan SmackDown memang bagus dan saya sangat mendukung sekali, karena sejak dari dulu sangat disayangkan tayangan yang penuh kekerasan dan saya sendiri belum menemukan dimana unsur kebaikan atau malah pendidikannya, kecuali ide membuat hiburan diatas penderitaan orang lain. Memang sih para pemain SmackDown yang disebut-sebut pegulat profesional mendapat bayaran untuk penderitaan mereka, tetapi mungkin bener untung gak sih kalo ujung2nya si pemain sampai koma berbulan-bulan.

Tetapi yang sangat memprihatinkan adalah kenyataan bahwa tayangan tersebut baru dihentikan setelah timbul korban jiwa. Pengusaha yang menayangkan acara tersebut jelas bukan pengusaha yang punya hati dan pandangan ke depan yang baik untuk bangsa, yang penting untung dan ratingnya tinggi sehingga dapat pemasukan iklan yang banyak. Di sini peran kontrol masyarakatlah yang tidak berjalan dengan baik, lagi-lagi pemerintah dipertanyakan kerjanya. Cuap-cuap pemerintah beberapa kali yang menyuarakan "demi anak cucu bangsa" terutama kalo mau menaikkan harga atau rakyat (lagi-lagi) disuruh hemat atau fasilitasnya dikurangi, tidak memberikan perlindungan yang baik bagi mereka anak cucu bangsanya sendiri, mungkin malah belum diperhatikan.

Lagi-lagi anak-anak menjadi korban. Akibat orang dewasa yang kurang perhatian. Secara insting, semua orang yang menonton tayangan smackdown akan mempelajari semua teknik berkelahinya, dan setelah itu merasa bahwa merekapun bisa, kadang ingin dipraktekkan. Saya belum membaca studi mengenai pengaruh tayangan smackdown terhadap prilaku brutal masyarakat sih, tapi saya kira ada hubungannya. Saya kalo lagi gak sengaja lihat berita kriminal, suka ngeri sendiri lihat beritanya, segitu teganya manusia dengan manusia lainnya, bahkan kepada orang yang saya kira harusnya paling disayangpun orang tega. Demo-demopun banyak yang berakhir rusuh. Ada kejadian sedikit, ujung-ujungnya penyerbuan, berantem walau sebetulnya cuma berani main keroyokan, sampai perang antar desa. Saya yakin ada pengaruhnya semua itu dengan apa yang ada di televisi.

Lebih lanjut menurut saya, setelah tayangan SmackDown dihentikan, maka dipelajari lagi mana tayangan2 yang banyak menampilkan adegan kekerasan lalu dihentikan, tayangan berita kriminal yang mengerikan juga harus dihentikan, tayangan kriminal lebih membuat orang takut dibanding waspada. Kemudian tayangan sinetron yang kental memperlihatkan sisi materialistis dan hedonisme, iri dengki, serta kekerasan juga dihentikan. Lalu tayangan penuh gosip juga harusnya dihentikanlah.

Mungkinkah sudah terlalu jauh pengaruh televisi terhadap prilaku kehidupan masyarakat sekarang? Mungkinkah televisi sudah menjadi panutan bermasyarakat?

Asset paling berharga yang kita punya adalah hati dan pikiran kita. Kekuatan pikiran sangat besar dan dahsyat. Pikiran adalah nakhoda prilaku. Pikiran yang baik akan membuat prilaku baik dan kebahagiaan, tetapi sebaliknya untuk pikiran tidak baik. Dulu ibu saya pernah bilang, "hati-hati dengan apa yang saya ucapkan, kalo malaikat mencatat maka hal itu bisa jadi kenyataan." Misal waktu dulu saya suka bilang "aduh bego banget sih" kalo saya sedang atau baru menemukan solusi dari suatu masalah (biasanya sih kerjaan sekolah), tapi sekarang udah nggak. Ucapan aja begitu, apalagi pikiran. Yang mempengaruhi pikiran adalah hati. Kata Aa Gym, "jagalah hati, jangan kau kotori....", hati yang terjaga bisa dilihat dari pikiran dan prilaku yang baik.

Jadi jaga hati, pikiran, dan prilaku kita dan anak cucu kita dari hal-hal yang buruk, dari contoh yang tidak baik, dan dari tayangan-tayangan tidak berguna.

Semoga kebahagiaan menjadi milik kita semua, amin.